Halaman

Translate

Kamis, 23 Januari 2014

Seperti apakah “Mahabbah” kita?



Bagaimana cara otakmu bekerja?
Bagaimana cara hatimu bekerja?
Ya otak tentu digunakan untuk berpikir dan hati untuk merasakan. Hanya saja cara kita untuk berpikir dan merasakan berbeda-beda prosesnya, berpikir menggunakan akal, merasakan menggunakan hati. Dimana perasaan atau naluri itu akan muncul kapan saja, dimana saja dan pada setiap pribadi yang memiliki hati saja, lalu ada akal kita yang membantu menyempurnakan perasaan menjadi benar sesuai pada “rulenya”. Sedikit perasaan yang saya maksud disini adalah perasaan “cinta”. Kenapa harus diberi tanda petik dua? Ya, karena ada beberapa tipe akal manusia yang mendeskripsikan kata cinta berbeda-beda. Bagi anak-anak cinta itu dia lihat dari seorang ibu yang tiap hari mengurusinya dan memberikan kasih sayang padanya, bagi remaja cinta itu adalah aku suka kamu-kamu juga suka aku – lalu kita jadian, nah bagi orang dewasa harusnya ada kalimat lain yang bisa mereka deskripsikan lebih ideal dan lebih bermakna serta sesuai dengan fitrahnya dan bisa memuaskan akal. Kenapa harus seribet itu? Jelas, karena kita sedang membicarakan kata yang amat sangat penting dan kritikal sekali untuk dicari tahu artinya, supaya kita tenang, dan supaya kita tidak banyak tertipu dan terbodohi. Loh kok serius begitu? Lah memang, tanpa kita tahu makna sebenarnya dari kata “cinta” makan akan sulit bagi kita untuk menempatkan perilaku kita nanti, karena ini memang berhubungan dengan perasaan dan kebiasaan. Supaya tidak menjadi kebiasaan yang buruk dan dapat merugikan.
Kita ganti kata cinta dengan kata baru yaitu “mahabbah” artinya sama saja. Mahabbah=cinta. Sedikit arti dari mahabbah adalah kecenderungan hati kepada yang dicintainya karena ia merasa senang kepada yang didekatnya, dan benci adalah kebalikannya. Itu pengertian cinta yang saya pahami, mengambil kutipan dari Imam Al-Ghazali.
Mahabbah itu fitrah, suci dan putih, sebagaimana pengertian yang dapat kita ambil dan pahami, maka dalam menjalankan fitrah kita itu tentu harus  adil dan sesuai dengan tempatnya. Kenapa harus begitu? Ya, memang. Sebelum kita memahamai kenapa kita harus berlaku adil dalam memperlakukan fitrah mahabbah kita, sedikit saja penjelasan tentang jenis jenis cinta.
Cinta atau mahabbah itu ternyata ada banyak jenisnya, kita lihat dan coba uraikan sedikit saja.
Pertama, ada cinta kepada Allah. Sebut saja Mahabbatullah. Jenis cinta ini adalah yang paling hakiki dan pertama, juga cinta yang paling sebenar-benarnya. Jadi kewajiban kita untuk mewujudkannya. Mengakui eksistensi dan ke EsaanNya serta menjalankan perintahnya termasuk dari cara mewujudkan rasa mahabatullah kita.
Kedua, mencintai apa yang dicintai Allah. Mahabbatu ma yuhibullah. Tentu cinta kita tak mau bertepuk sebelah tangan kan? Maka agar dapat memperoleh cinta dari Allah yang telah kita cintai, seharusnya kita juga dapat mencintai apa yang Allah cintai juga yang dengan jalannya kita dapat keluar dari kekafiran, misalnya dengan menjalankan ibadah kepada Allah, dan mencintai utusan Allah, yatiu Rasulullah.
Ketiga, cinta karena Allah dan dijalan Allah. Al-Hubbu fillah wa lillah. Yang ini jenis cinta yang menjadi syarat mahabbatu ma yuhibullah, ngga akan jadi lurus dan atau sempurna jila jalan kita mencintai Allah dan mencintai apa yang dicintai Allah tidak sesuai aturannya Allah dan syariatnya Allah. Misal mencintai saudara kita yang dilandasi keimanan. Bukan karena suka sama suka atau karena dia memiliki apa yang kita sukai.
Keempat, cinta yang mendua kepada Allah. Al-Mahabbah ma’allah. Jenis cinta ini yang sering jadi komplikasi nih, karena banyak yang menjadikan kecintaan kita pada Allah dan selain Allah itu sama kadarnya. Yang ini jelas tidak boleh diagungkan dan dijadikan kebiasaan.
Kelima, rasa cinta yang manusiawi. Al mahabbah ath-thabi’iyyah. Jenis cinta ini ya kita boleh memilikinya, karena jenis cinta ini yang sesuai dengan naluri dan watak kita untuk mencintai. Cinta ini boleh saja diwujudkan asal tidak menjauhkan kita dari mahabbatullah.
Setelah kita mengetahui beberapa jenis-jenis cinta diatas, maka kita sudah mulai mengkoreksi dan memahami sebenarnya kejadian apa yang sedang kita alami dalam hati dan perasaan kita. Bisa jadi yang kita rasakan adalah jenis cinta yang bukan semestinya dan bukan sepantasnya. Kita ambil contoh pengertian cinta yang banyak dipahami oleh orang banyak, yaitu cinta pada lawan jenis. Memang itu salah ya? Tentu tidak, itu kan fitrah dan bisa jadi anugerah. Asal saja tidak salah memperlakukannya. Jika masih emosi kita labil, maka hanya akan ada kegundahan dan keraguan karenanya. Maka pahamilah dulu mahabbah apa yang sebenarnya sedang kita alami. Terlalu lebay mengeksposenya, atau terlalu lebay memperlakukannya adalah salah kaprahnya kita mengartikan mahabbah kita, dikit-dikit mikirin dia, dikit-dikit update status tentangnya, dikit-dikit pandangin matanya, dikit-dikit pegang tangannya, eh dikit-dikit dipegang lama-lama semuanya kepegang. nah loh?
Lantas kita bawa kemana perasaan cinta kita?
Tujuan cinta?
Dan pada siapa kita melabuhkan cinta?
Only Allah. Dialah Sang Maha Pemilik Hati, Yang Maha Memberi, dan Maha Sempurna. Ya hanya pada Allah seharusnya kita melabuhkan cinta kita. Cinta pada Allah, cinta tanpa batas dan tanpa cela dan cinta yang paling banyak memberikan kebaikan pada hambaNya. Dan cinta karena Allah yang akan membahagiakan kita kelak.
Secara fitrah hati kita akan tertuju pada Allah dan cenderung mencintai Dia, karena memang Allah yang memberi kita nikmat dan Allah yang berjasa atas hidup kita. Lah yang menciptakan hati kita agar dapat hati kita timbul rasa cinta siapa lagi? Only Allah.
Cinta akan muncul sejalan dengan motivasi yang kita dapat, kita lihat bagaimana kemuliaan akan kita dapat dari Allah saat mahabbatullah kita bekerja, dan Only Allah yang lebih layak dicintai dari segalanya, karena Allah memiliki nama dan sifat-sifat yang baik dan mulia.
Rugi sekali jika ada orang yang berpaling dari cintanya Allah, karena Allah tidak meminta imbalan dan Allah memenuhi semua kebutuhan setiap mahlukNya. Begitulah cara cinta Allah bekerja pada kita.
“Tiga hal yang barang siapa mampu melakukannya maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu pertama, Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada keduanya, kedua, tidak mencintai seseorang kecuali hanya karena Allah, ketiga, benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka” (HR. Bukhari)
Sudah dapatkah kita mengerti apa yang seharusnya kita lakukan pada perasaan cinta kita?
Semuanya harus terpusat pada mahabbatullah, dan mahabbah fillah, juga mahabbah kepada sesuatu yang dapat mengingatkan kita pada keduanya. Allah dulu. Allah sekarang. Allah nanti.
Maka jauhilah dari mahabbah ma’allah. Bisa jadi itu kemusyrikan dan aplikasi cinta yang tercela.
#LovebecauseAllah #UhibbukumFillah J