Bagaimana cara otakmu bekerja?
Bagaimana cara hatimu bekerja?
Ya otak tentu digunakan untuk berpikir
dan hati untuk merasakan. Hanya saja cara kita untuk berpikir dan merasakan
berbeda-beda prosesnya, berpikir menggunakan akal, merasakan menggunakan hati.
Dimana perasaan atau naluri itu akan muncul kapan saja, dimana saja dan pada
setiap pribadi yang memiliki hati saja, lalu ada akal kita yang membantu
menyempurnakan perasaan menjadi benar sesuai pada “rulenya”. Sedikit perasaan
yang saya maksud disini adalah perasaan “cinta”. Kenapa harus diberi tanda
petik dua? Ya, karena ada beberapa tipe akal manusia yang mendeskripsikan kata
cinta berbeda-beda. Bagi anak-anak cinta itu dia lihat dari seorang ibu yang
tiap hari mengurusinya dan memberikan kasih sayang padanya, bagi remaja cinta
itu adalah aku suka kamu-kamu juga suka aku – lalu kita jadian, nah bagi orang
dewasa harusnya ada kalimat lain yang bisa mereka deskripsikan lebih ideal dan
lebih bermakna serta sesuai dengan fitrahnya dan bisa memuaskan akal. Kenapa
harus seribet itu? Jelas, karena kita sedang membicarakan kata yang amat sangat
penting dan kritikal sekali untuk dicari tahu artinya, supaya kita tenang, dan
supaya kita tidak banyak tertipu dan terbodohi. Loh kok serius begitu? Lah
memang, tanpa kita tahu makna sebenarnya dari kata “cinta” makan akan sulit
bagi kita untuk menempatkan perilaku kita nanti, karena ini memang berhubungan
dengan perasaan dan kebiasaan. Supaya tidak menjadi kebiasaan yang buruk dan
dapat merugikan.
Kita ganti kata cinta dengan kata baru
yaitu “mahabbah” artinya sama saja. Mahabbah=cinta. Sedikit arti dari mahabbah
adalah kecenderungan hati kepada yang dicintainya karena ia merasa senang
kepada yang didekatnya, dan benci adalah kebalikannya. Itu pengertian cinta
yang saya pahami, mengambil kutipan dari Imam Al-Ghazali.
Mahabbah itu fitrah, suci dan putih,
sebagaimana pengertian yang dapat kita ambil dan pahami, maka dalam menjalankan
fitrah kita itu tentu harus adil dan
sesuai dengan tempatnya. Kenapa harus begitu? Ya, memang. Sebelum kita
memahamai kenapa kita harus berlaku adil dalam memperlakukan fitrah mahabbah
kita, sedikit saja penjelasan tentang jenis jenis cinta.
Cinta atau mahabbah itu ternyata ada
banyak jenisnya, kita lihat dan coba uraikan sedikit saja.
Pertama, ada cinta kepada Allah. Sebut
saja Mahabbatullah. Jenis cinta ini adalah yang paling hakiki dan pertama, juga
cinta yang paling sebenar-benarnya. Jadi kewajiban kita untuk mewujudkannya.
Mengakui eksistensi dan ke EsaanNya serta menjalankan perintahnya termasuk dari
cara mewujudkan rasa mahabatullah kita.
Kedua, mencintai apa yang dicintai
Allah. Mahabbatu ma yuhibullah. Tentu cinta kita tak mau bertepuk sebelah
tangan kan? Maka agar dapat memperoleh cinta dari Allah yang telah kita cintai,
seharusnya kita juga dapat mencintai apa yang Allah cintai juga yang dengan
jalannya kita dapat keluar dari kekafiran, misalnya dengan menjalankan ibadah
kepada Allah, dan mencintai utusan Allah, yatiu Rasulullah.
Ketiga, cinta karena Allah dan dijalan
Allah. Al-Hubbu fillah wa lillah. Yang ini jenis cinta yang menjadi syarat
mahabbatu ma yuhibullah, ngga akan jadi lurus dan atau sempurna jila jalan kita
mencintai Allah dan mencintai apa yang dicintai Allah tidak sesuai aturannya
Allah dan syariatnya Allah. Misal mencintai saudara kita yang dilandasi
keimanan. Bukan karena suka sama suka atau karena dia memiliki apa yang kita
sukai.
Keempat, cinta yang mendua kepada Allah.
Al-Mahabbah ma’allah. Jenis cinta ini yang sering jadi komplikasi nih, karena
banyak yang menjadikan kecintaan kita pada Allah dan selain Allah itu sama
kadarnya. Yang ini jelas tidak boleh diagungkan dan dijadikan kebiasaan.
Kelima, rasa cinta yang manusiawi. Al
mahabbah ath-thabi’iyyah. Jenis cinta ini ya kita boleh memilikinya, karena
jenis cinta ini yang sesuai dengan naluri dan watak kita untuk mencintai. Cinta
ini boleh saja diwujudkan asal tidak menjauhkan kita dari mahabbatullah.
Setelah kita mengetahui beberapa
jenis-jenis cinta diatas, maka kita sudah mulai mengkoreksi dan memahami
sebenarnya kejadian apa yang sedang kita alami dalam hati dan perasaan kita.
Bisa jadi yang kita rasakan adalah jenis cinta yang bukan semestinya dan bukan
sepantasnya. Kita ambil contoh pengertian cinta yang banyak dipahami oleh orang
banyak, yaitu cinta pada lawan jenis. Memang itu salah ya? Tentu tidak, itu kan
fitrah dan bisa jadi anugerah. Asal saja tidak salah memperlakukannya. Jika
masih emosi kita labil, maka hanya akan ada kegundahan dan keraguan karenanya.
Maka pahamilah dulu mahabbah apa yang sebenarnya sedang kita alami. Terlalu
lebay mengeksposenya, atau terlalu lebay memperlakukannya adalah salah
kaprahnya kita mengartikan mahabbah kita, dikit-dikit mikirin dia, dikit-dikit
update status tentangnya, dikit-dikit pandangin matanya, dikit-dikit pegang
tangannya, eh dikit-dikit dipegang lama-lama semuanya kepegang. nah loh?
Lantas kita bawa kemana perasaan cinta
kita?
Tujuan cinta?
Dan pada siapa kita melabuhkan cinta?
Only Allah. Dialah Sang Maha Pemilik
Hati, Yang Maha Memberi, dan Maha Sempurna. Ya hanya pada Allah seharusnya kita
melabuhkan cinta kita. Cinta pada Allah, cinta tanpa batas dan tanpa cela dan
cinta yang paling banyak memberikan kebaikan pada hambaNya. Dan cinta karena
Allah yang akan membahagiakan kita kelak.
Secara fitrah hati kita akan tertuju
pada Allah dan cenderung mencintai Dia, karena memang Allah yang memberi kita
nikmat dan Allah yang berjasa atas hidup kita. Lah yang menciptakan hati kita
agar dapat hati kita timbul rasa cinta siapa lagi? Only Allah.
Cinta akan muncul sejalan dengan
motivasi yang kita dapat, kita lihat bagaimana kemuliaan akan kita dapat dari
Allah saat mahabbatullah kita bekerja, dan Only Allah yang lebih layak dicintai
dari segalanya, karena Allah memiliki nama dan sifat-sifat yang baik dan mulia.
Rugi sekali jika ada orang yang
berpaling dari cintanya Allah, karena Allah tidak meminta imbalan dan Allah
memenuhi semua kebutuhan setiap mahlukNya. Begitulah cara cinta Allah bekerja
pada kita.
“Tiga hal yang barang siapa mampu
melakukannya maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu pertama, Allah dan
Rasul-Nya lebih ia cintai daripada keduanya, kedua, tidak mencintai seseorang
kecuali hanya karena Allah, ketiga, benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia
benci dilemparkan ke neraka” (HR. Bukhari)
Sudah dapatkah kita mengerti apa yang
seharusnya kita lakukan pada perasaan cinta kita?
Semuanya harus terpusat pada
mahabbatullah, dan mahabbah fillah, juga mahabbah kepada sesuatu yang dapat
mengingatkan kita pada keduanya. Allah dulu. Allah sekarang. Allah nanti.
Maka jauhilah dari mahabbah ma’allah. Bisa
jadi itu kemusyrikan dan aplikasi cinta yang tercela.
#LovebecauseAllah
#UhibbukumFillah J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar